Senin, 19 November 2012

Sayyid Ahmed Kabir Rifai

    Sayyid Ahmed Kabir Rifai lahir di paruh pertama Rajab di yeer Muslim 512 AH (1119 AD) pada hari Kamis. Kelahirannya berada di kota Ummu Abeyde di kotapraja Beta di provinsi Basra, ayah Iraq. adalah Sayyid Ali Abu'l Hasan. Ibunya adalah Fatima ul-Anseri binti Yahya Nijjeri. Syaikhnya adalah Aleyyul Wasiti. Ahmed Kabir Rifai Keturunan Nabi MUHAMMAD SAW dari kedua orang tuanya. Keturunan dari ayahnya adalah :

1.Sayidina Ali (Rz), 
2.Sayidina Hussain, (K.S) 
3.Imam Ali Zayna'l-Abidin (K.S.) 
4.Imam Muhammad al-Baqir (K.S.) 
5.Imam as-Sadiq Jafer (K.S.) 
6.Imam Musa al-Kazim (K.S.) 
7.Imam Ibrahim al-Murteza (K.S.) 
8.Sayyid Musa Sani (K.S.) 
9.Sayyid Ahmad Salih Akbar (K.S.) 
10.Sayyid Abu Abdullah Husain (K.S.) 
11.Sayyid Hasan Qasim Abu Musa (K.S.) 
12.Sayyid Muhammad Abu'l-Qasim (K.S.) 
13.Sayyid Al-Mahdi Makki (K.S.) 
14.Sayyid Abu'l Mekarim al-Hasan (K.S.) 
15.Sayyid Abu'l Fadail (K.S.) 
16.Sayyid Abu Ali Murtaza (K.S.) 
17.Sayyid Ali Abu Hazim 'l Fewaris (K.S.) 
18.Sayyid Sabit (K.S.) 
19.Sayyid Yahya Nakib (K.S.) 
20.Sayyid Ebul-Hasen Aliyy-ar-Rifai (K.S.) 
21.Sayyid Ahmad Hadrat ar-Rifai (K.S.)

     Sebelum kelahiran Ahmed Kabir Rifai, paman dari pihak ibu, seorang Syaikh yang terkenal, Mansur Rabbani, telah melihat nabi kita. MUHAMMAD SAW dan diberitahu bahwa adiknya akan memiliki anak laki-laki yang akan menjadi terkenal dan dikenal dengan nama "Rifa'i." Ketika anak mencapai usia yang tepat untuk tasawuf, ia harus dikirim ke Syaikh Aleyyul Vasiti untuk pendidikan dan pelatihan.
      
      Ayah Ahmed Kabir Rifai meninggal ketika anaknya berumur 7 tahun. Sayyid Ali meninggal pada 519 H, ia dimakamkan di Baghdad. Jadi paman dari pihak ibu Ahmed  Rifai yang mulai mengurus anak kecil. Setelah beberapa saat ia dikirim ke Syaikh Vasiti sesuai dengan visi pamannya. Syaikh Mansur mengatakan bahwa selama Ahmed Kabir Rifai tinggal bersamanya, ia melihat banyak keajaiban datang melalui anak itu dan bahwa berkat-berkat yang datang melalui dia untuk semua orang. 
     
      Ahmed Kabir Rifai menunjukkan kemampuan dan kebijaksanaan yang melebihi usianya ketika ia mulai pendidikannya di bawah Syaikh Vasiti. Dia memperoleh maqam tinggi dengan menjelaskan buku sekolah Shafi disebut "Tanbih." 

      Hazrat Sayyid Ahmad ar-Rifai adalah dua puluh tahun, ketika Abu Fazl Ali, yang merupakan Syaikh dari Vasit provinsi dan gurunya, memberikan kepadanya Khilafat, izin untuk memulai urutan darwis, memberinya nama "ayah dari eksternal dan interior ilmu , "dan berpakaian dia dengan jubah darwis sendiri itu. Hazrat Sayyid Ahmad Kabir-Rifai tetap di Nehr-i Dikla untuk waktu yang singkat dan setelah itu kembali ke guest house ayahnya untuk wisatawan di Hasen. Dia kemudian menjadi sangat terkenal. Ketika ia berusia dua puluh delapan tahun, pamannya Syaikh Mansur meminta agar dia memimpin pondok darwis dan khalifah setelah dia. Dia juga menginstruksikan dia untuk tinggal di pondok darwis dari Syaikh Yahya en-Neccari, yang kakeknya dari pihak ibunya. Sayidina Sayyid Ahmad ar-Rifai mengambil jabatannya (shaykhship) di sana sebagai seorang guru tercerahkan dan mulai mengajar di pondok darwis. Pamannya meninggal pada tahun yang sama. Pada saat Sayidina Sayyid Ahmad ar-Rifai mencapai usia tiga puluh lima, murid-muridnya (murid-murid) berjumlah lebih dari tujuh ratus ribu.

Ajaran Syaikh Ahmad Rifa'i
        Ajaran tasawuf Syaikh Ahmad Rifa'i banyak diriwayatkan oleh ‘Abdul Wahhab Al-Sya'rani dalam buku At-Thabaqat al-Kubra. Ajaran zuhud, misal, menurut Syaikh Ahmad Rifa'i adalah landasan keadaan yang diridlai dan tingkatan-tingkatan yang disunnahkan. Langkah pertama salik menuju Allah adalah mengarahkan diri sepenuhnya kepada Allah.  Siapa yang belum menguasai landasan kezuhudan, maka langkah-langkah selanjutnya akan sulit menemukan yang benar. Sedang ma'rifat, menurut Syaikh Ahmad Rifa'i, adalah kehadiran dalam makna kedekatan kepada Allah disertai ilmu yaqin sehingga tersingkaplah hakikat realitas-realitas yang benar-benar meyakinkan. Dalam riwayat lain, dikisahkan Syaikh Ahmad Rifa'i berkata,"Cinta mengantar pada rindu dendam, sementara ma'rifat mengantar pada kefanaan - ketiadaan diri."
         Ajaran Syaikh Ahmad Rifa'i tidak lepas dari rebana sebagai pengiring dzikir dan shalawat. Menurut riwayat, suatu saat Syaikh Ahmad Rifa'i berdzikir dalam keadaan fanaa. Tubuhnya terangkat ke atas dan dalam keadaan tidak sadar ia menepuk-nepuk dadanya. Allah memerintahkan kepada malaikat untuk memberinya rebana di dadanya. Tetapi Syaikh Ahmad Rifa'i tidak ingat apa-apa akibat terlalu khusyuknya. Sejak saat itu, rebana menjadi bagian dari ajaran tarikat Ar-Rifa'iyyah.
        Untuk menuju kepada Tuhan, Al-Rifa'i mengajarkan dzikir yang diformulasi dengan irama dan intonasi suara yang lantang dengan tujuan supaya yang tidur bangun dan yang alpa menjadi ingat. Oleh karena cara berdzikir yang berirama itu, dunia Barat menyebut dzikir Tarikat Rifa'iyyah dengan sebutan Darwis Menangis, terutama karena suara-suara ganjil yang dihasilkan pada dzikir berjama'ah Tarikat Rifa'iyyah. Ada pula yang menyebut dzikir Rifa'iyyah dengan sebutan Dzikir Arra, yaitu "dzikir menggergaji" terutama yang dijalankan Tarikat Rifa'iyyah di Asia Tengah dan Turki. Sebagian penganut Tarikat Rifa'iyyah menyatakan tidak tahu pasti apakah Dzikir dengan suara lantang itu diajarkan oleh Syaikh Ahmad Rifa'i sendiri atau ada pengaruh dari Tarikat Yasawiyyah yang dibangsakan kepada Syaikh Ahmad Yasawi, di mana Syaikh Ahmad Yasawi dikenal sebagai pelopor dzikir lantang karena ia seorang sastrawan sufi.
       Dalam kitab at-Thabaqat al-Kubra  diterangkan, pada saat mengajar Syaikh Ahmad Rifa'i suaranya terdengar oleh orang-orang yang tinggal jauh dari tempatnya  seolah semua bisa mendengar apa yang disampaikan  sama seperti orang yang dekat dengan tempatnya mengajar. Saat Syaikh Ahmad Rifa'i mengajar,  penduduk di sekitar  Ummi Abidah beramai-ramai keluar dari rumahnya untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh Syaikh Ahmad Rifa'i. Konon,  orang yang  tuli pun  jika hadir mengaji, akan dibukakan pendengarannya oleh Allah sehingga bisa mendengar apa yang disampaikan  Syaikh Ahmad Rifa'i. Para guru tarikat  banyak yang hadir untuk mendengarkan wejangan   Syaikh Ahmad Al-Rifa'i. Mereka biasanya menggelar sajadah sebagai tempat duduk. Setelah Syaikh Ahmad Al-Rifa ‘i selesai memberi pelajaran, mereka pulang sambil menempelkan sajadah ke dada mereka  masing-masing. Setelah sampai di rumah,  mereka dengan lancar  bisa menjelaskan semua yang telah mereka dengar  kepada para muridnya.
        Dari berbagai ajaran Al-Rifa'i yang paling menonjol dan terkenal adalah Dabus, suatu didikan yang luar biasa ganjil.Annemarie Schimmel dalam Mystical Dimensions of Islam (1975) menganggap Tarikat Rifa'iyyah sebagai tarikat ganjil karena melatih murid-muridnya untuk tahan api, melukai diri sendiri dengan benda-benda tajam, berjalan di atas pecahan kaca, mematukkan diri dengan ular berbisa, memakan kaca, ditusuk benda-benda runcing (dabus), dengan anggapan murid-murid yang mencapai tahap fana tidak lagi memiliki rasa sakit karena sangat dzikir kepada Allah.
Asy-Sya'rani mengomentari kedudukan Al-Rifa'i dalam kedudukan tasawuf  dengan ungkapan,"Dia adalah seorang tokoh dalam tasawuf, mengenal berbagai keadaan kaum sufi, dan banyak menuingkap masalah-masalah posisi mereka. Setiap kali ia keluar, ia selalu diikuti orang banyak. Dia memiliki murid."
         Keanehan dalam berbagai hal, tidak hanya dimiliki Al-Rifa'i, banyak hal aneh yang juga sering terjadi pada diri murid Syaikh Ahmad Rifa'i seperti mampu  masuk ke dalam api yang sedang menyala, menjinakkan binatang buas seperti harimau, membuat hewan buas patuh dan menuruti apa yang mereka katakana, sehingga singa pun  dapat dijadikan kendaraan oleh mereka. Di Mesir banyak cerita tentang bagaimana murid-murid Tarikat Rifa'iyyah menolong orang-orang yang dipatuk ular cobra.  Pendek kata, berbagai keajaiban ditunjukkan oleh murid-murid Tarikat Rifa'iyyah.
 
 
 

Minggu, 18 November 2012

Jiwa yang Terselamatkan

Saat Langkah Terhenti pada Satu Pijakan
Hati Dikelabuhi Gelapnya Napsu Menggairahkan
Ketika Mata Tak Dapat Lagi Membedakan
Kemana Jejak Yang Harus Ku Langkahkan

Terjatuh dan Terjatuh tak Mampu Membangkitkan
Menempuh Jalan yang Penuh Duri Begitu Menyakitkan
Aku Berlayar Pada Lautan Kemunafikan
Terhempas Oleh Ganasnya Ombak yang Menyesatkan

Kau Datang dan Hembuskan Angin Kesejukan
Menundukkan Hati dan Jiwa yang Terselamatkan
Setitik Cahaya Kelembutan Kau Pancarkan
Terangi Jalan Hidup Yang Ku Dambakan

Mawar Merah nan Indah yang Mengharumkan
Hiasi Jiwa Dalam Wujud yang Menyatukan
Kepada Mu Hidup ini Ku Sandarkan
Dengan Cinta Kasih Tak Dapat Terpisahkan

Pesta Hati

Pancaran Sinar Yang Teduh nan Lembut Menerangi Hati
Pe-Cinta RASULULLAH Berkumpul Menjadi Satu Keluarga Al-ghifary
Senandungkan Pujian dan Sholawat Setiap Hari
Dibawah Pimpinan Arif Bijaksana dari Zuriat Nabi
Pembimbing kami Menuju Jalan Ilahi Robbi

Mata dan HAti ini Dibutakan Cinta Oleh Lembutnya Cahaya
RASULULLAH Suri Tauladan Sempurna Di Jagat Raya
Manusia Suci Yang Selalu Dapat di Percaya
Pembawa Keselamatan Bagi umat nya Yang Setia

Al-ghifary Dendangkan Nyayian pujian Suci dari Hati
Lantunan Bait-bait nan Indah Menyambuat Kedatangan MU Wahai Pujaan Hati
Diiringi dengan Tabuhan Hadroh Menambah Semarak Pesta Hati
Yang Hanya Ditujukan Untuk mu Wahai Kekasih Hati

Dibawah Panji Al-ghifary Tercurahkan Maksud Hati yang Kami Ingin
Wasilah Zuriat-NYA ku Serahkan Hidup ini Lahir dan Bathin
Demi Cinta Kami Kepada MU Ya Sayyidil Mursaliin
Syafa'at Mu yang Kami harap Nanti,Amiiin....

Taman AL-GHIFARY

Di Taman AL-GHIFARY Terhampar Luas Kuntuman  Mawar Merah nan Indah
Dalam Wujud tak Sama Namun Semua Merekah
Ragam dan Warna-Warni AL-GHIFARY yang menbuat Gairah
Menghantarkan Cinta Kepada Mu wahai Pemilik Kota Makkah
Rindu ku Akan Cinta Menjadikan Wasilah
Meraih Kebahagiaan Hidup Penuh Berkah
Cahaya Cinta yang Tersimpan Kini Kembali Sudah
manusia Mulia dari Sulbi Sayyidati Fatimah
Assayyidil Mursyid Al-Habib Husain Bin Hasan Al-Hamid Pembawa Risalah

Malikat Kecil dari Syurga


Habib Ahmad Tsagib Bin Habib Husain bin Habib  Hasan Al-Hamid

Kepakkan Sayap mu Kibaskan Nurani Bahagia
Saat Terbukanya Mata, Terpecah Senyum Ceria
Kau Datang Sebagai Permintaan yang Mulia
Yang kini Sebagai Pembimbing mu yang Setia
Kau Malaikat Kecil yang Singgah Membawa Cinta ke Dunia
Manisnya Cinta dari Syurga untuk kami Sebagai Karunia
Kau Buah Hati Dari Penjaga Rahasia
Pemegang Kunci Kebahagiaan Untuk Manusia

Temukan Cinta Dibawah Tumpukan Permata

Temukan Cinta Dibawah Tumpukan Permata

Disaat Ku Pejamkan Kedua Mata
Bayang mu Slalu Hidup dan Nyata
Terlihat jelas Cahaya-Cahaya Cinta
Yang Ku Temukan Dibawah Tumpukan Permata
Piala mu Begitu Sempurna di antara Hiasa yang Bertahta
Bermahkotakan Mawar Merah Menghiasi Alam Semesta

Rabu, 14 November 2012

AL-HAMID

     Syaikh Abubakar bin Salim bin Abdullah bin Abdurahman bin Abdullah bin Abdurahman Assegaf atau Syechbubakar adalah tokoh masyarakat di Hadramaut, Yaman yang hidup pada abad ke 9 Hijriah. Dia lahir di Kota Tarim, Hadramaut, pada tahun 919 H. Namanya menjadi salah satu nama FAM dari keturunan Allawiyyin yang tersebar di berbagai wilayah.

    Syechbubakar dikenal dengan beberapa sebutan lain, yaitu Syekhbu, Syaikhbubakar, Sechbubakar, Bin Syech Abubakar, dan Bin Syaih Abubakar (atau BSA). Syecbubakar dilahirkan di Kota Tarim, Hadramaut pada tahun 919 H. Di lahir sebagai bayi kembar dengan saudara kembarnya adalah Agil bin Salim (leluhur keluarga Al-Athas). Syechbubakar lahir dari pasangan Habib Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Imam Qutb Abdurrahman Assegaf dan Syarifah Afifah Thalhah binti Agil bin Ahmad bin Syaikh Abu Bakar Assakran bin Imam Qutb Abdurrahman Assegaf. Secara silsilah, Syechbubakar merupakan zuriyat dari Rasulullah yang bersambung melalui Fathimah azzahrah dan Ali bin Abu Thalib ra. Berikut adalah silsilahnya: Syechbubakar bin Salim bin Abdillah bin Abdurahman bin Abdullah bin Abdurahman Assegaf bin Muhammad Al-Mudawailah bin ‘Ali bin ‘Alwi Al-Ghuyur bin Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Shahib Mirbad bin ‘Ali bin ‘Alwi bin Muhammad bin ‘Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin ‘Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin ‘Ali Uraidhi bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali Al-Ashghar Zainal Abidin bin Husein Sayyidus Syuhada bin ‘Ali Karaamallahu wajhah.[2] Syechbubakar merupakan keturnan dari cucu Fathimah AzZahra dan Ali bin Abu Thalib, yaitu Zainal Abidin Bin Husein (salah satu keluarga yang laki-laki yang hidup pada peristiwa pembantaian Karbala) yang saat ini tersebar, selain juga dari keturunan Hasan bin Ali bin Abu Thalib. Kalau diteliti lebih lanjut, silsilah tersebut dapat ditemukan untainnya sampai kepada manusia pertama di muka bumi yaitu Adam a.s. Ali bin Abu Thalib r.a yang merupakan sepupu satu (satu kakek) dengan nabi Muhammad saw yaitu Abdul Muthalib. Dalam Kanzul Ummal 6: 300, kitab Fadhail, hadis ke 35512 disebutkan:[3] “ Ibnu Abbas berkata, aku mendengar Nabi saw bersabda: “Aku adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththalib bin Hasyim bin Abdil Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Luay bin Ghalib bin Fahr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazzar bin Ma’da bin ‘Adnan bin Adda bin Udada bin Hamyasa’ bin Yasyhab bin Nabat bin Jamil bin Qaidar bin Ismail bin Ibrahim bin Tarikh bin Nahur bin Asyu’ bin Ar’us bin Faligh bin ‘Abar (Hud) bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh bin Lumka bin Mutawasysyalikh bin Akhnukh (Idris) bin Azda bin Qinan bin Anwasy bin Syayts bin Adam (as). Syaikh Abubakar bin Salim memiliki enam saudara (Sayyid Agil, Sayyid Syaikh, Sayyid Alwi, Sayyid Hussein, Sayyid Abdurrahman, dan Syarifah Aisyah) dan tujuh belas anak, yang terdiri dari empat perempuan dan tiga belas laki-laki. Di antara anak laki-lakinya, Huseinlah yang di pilih sebagai pengganti kedudukan orang tua. Habib Husein bin Abu Bakar bin Salim dikenal sebagai guru Habib Umar bin Abdurrahman Al Attas.

      Syaikh Abubakar bin Salim dikaruniai keturunan yang beberapa diantaranya menjadi nama marga keluarga Allawiyyin yaitu: Husein bin Syechbubakar bin Salim Al-Hamid Al-Muhdar atau disebut pula Al-Mahadir Al-Haddar Al-Hiyyid Al bin Jindan Al Abu Futhaim Al-Khumur Al bin Hafidz Yang pertama kali mendapat julukan (gelar) “Alhamid” adalah waliyyullah Hamid bin Syaich Abi Bakar bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullab bin Al Imam Abdurrahman Assegaf. So’al gelar “Al-Hamid” yang disandangnya berdasarkan bahasa Arab “Al-Hamid” yang berarti orang yang selalu suka berterima kasih (selalu mensyukuri) atas semua nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Maka. Waliyyullah Al Syaich Abi Bakar bin Salim memberi salah satu nama anaknya dengan “Al-Hamid” dengan do’a pengharapan agar anaknya tersebut menjadi orang yang selalu mensyukuri semua nikmat,yang diberikan oleh Allah SWT, baik dalam keadaan suka maupun duka kenyataannya “Al-Hamid” bin Syaich Abi Bakar menjadi seorang Waliyyullah yang bertawakkal kepada Allah dan senang menolong orang dan suka memberikan apa yang dimilikinya kepada orang yang membutuhkannya, hal tersebut dapat terlaksana karena Beliau termasuk golongan orang-orang yang dijanjikan oleh Allah SWT seperti dalam FirmanNya : Dalam Al Qur’anul Karim surat Ibrahim ayat 7 ” Bila Kalian mensyukuri NikmatKu, maka akan Kutambah lagi NikmatKu itu pada kalian.” Waliyyullah “Al-Hamid dilahirkan di kota Inat. Beliau dikaruniai 5 orang anak lelaki masing masing bernama : Muthahhar, yang menjadi keturunan Al-Hamid “Al-Aqil Muthahhar” dari anaknya yang bernama Aqil bin Muthahhar. Umar, yang menjadi keturunan A1Hamid “Al-Salim bin Umar”, dari anaknya yang bernama Salim bin Umar. Yang banyak menurunkan keturunan Al-Hamid terutama yang berada di Indonesia. Abdullah, Abubakar, Alwi, Masing-masing keturunannya kebanyakan berada di Hadramaut. Waliyyullah “Al-Hamid” bin Al-Syaich AbiBakar pulang ke Rahmatullah di kota Inat pada tahun 1030 Hijriyyah.

     Salah satu keturunan dari AL-Hamid adalah Sayyidil Mursyid Al-habib Husain bin Hasan Bin Sholeh Al-Hamid yang lahir pada tanggal 2 Agustus 1984,Beliau masih sangat muda tetapi ilmu Hakikat dan ke-Tauhid-an nya sudah tidak diragukan lagi. Beliau belajar kepada Sayyidil Mursyid Al-habib Irfan Bin Hasyim Bin Thahir yang sekaligus sebagai mertua beliau. Al-Habib Husain bin Hasan Al-Hamid sebagai pembimbing di majelis AL-GHIFARY yang berada di Jl. Pulo Indah,Petukangan Pesanggrahan, jakarta selatan.
     Beliau selalu menekankan kepada murid-muridnya agar selalu menebarkan kasih sayang kepada siapapun dan selalu berakhlak baik hingga mencapai pada tingkatan manusia yang sempurna. Akhlak dan adab beliau kepada siapapun sangat terpuji sehingga banyak orang yang menyeganinya.Bukan dari kalangan Ahwal saja tetapi para Habaib baik muda ataupun tua banyak yang datang ke rumah beliau untuk silaturrahmi,meminta nasihat atau bahkan menuntut ilmu.
     Metode pengajaran beliau kepada murid-muridnya adalah :
1. Selalu menjaga syariat yang telah di ajarkan Baginda RASULULLAH SAW melalui para Habaib,Alim       Ulama.
2. Selalu menjaga Hati ( Hubungan ) kepada MURSYID dimanapun murid itu berada.
3. Disiplin hati terhadap sesuatu yang telah ALLAH tentukan
 Majelis AL-GHIFARY diadakan setiap hari rabu malam kamis yang di adakan di rumah beliau dengan acara :
 1. Tawasul
 2. Pembacaan Manaqib Tuan Syech Abdul Qodir Al-Jaelani
 3. Pembacaan Maaulid Ad'dibai
4. Tausiah agama dari para Habaib/ Alim Ulama.
      Berbagai macam halangan dan rintangan Beliau hadapi dengan sabar demi menegakkan panji-panji ALLAH dan RASULULLAH. banyak sekali hinaan,hujatan bahkan fitnah yang harus beliau terima dari kalangan orang-orang yang benci atau iri kepada beliau,bukan balas dendam,atau tindakan konyol,tetapi senyuman yang beliau balas kepada orang-orang tadi. Begitu indah akhlak nya.
     Semoga ALLAH selalu mencurahkan Rahmat dan karunia untuk beliau dan semoga RASULULLAH selalu tersenyum bangga atas apa yang beliau kerjakan, dan bagi kami para murid-murid semoga selalu bisa menjadi/mewujudkan atas apa yang telah beliau ajarkan dan semoga kami menjadi murid yang selalu pandai menjaga akhlak,adab dan hati kami dimanapun kami berada. Semoga predikat INSAN KAMIL dapat kami peroleh dengan bimbingan Sayyidil Mursyid Al-Habib Husain bin Hasan bin Sholeh Al-Hamid. Dan semoga kita semua mati dalam keadaan Husnul Khotimah,mati dalam keadaan Mulia,mati dalam Keadaan membawa Iman,mati dalam keadaan cinta.amiinnn....