Rabu, 14 November 2012

AL-HAMID

     Syaikh Abubakar bin Salim bin Abdullah bin Abdurahman bin Abdullah bin Abdurahman Assegaf atau Syechbubakar adalah tokoh masyarakat di Hadramaut, Yaman yang hidup pada abad ke 9 Hijriah. Dia lahir di Kota Tarim, Hadramaut, pada tahun 919 H. Namanya menjadi salah satu nama FAM dari keturunan Allawiyyin yang tersebar di berbagai wilayah.

    Syechbubakar dikenal dengan beberapa sebutan lain, yaitu Syekhbu, Syaikhbubakar, Sechbubakar, Bin Syech Abubakar, dan Bin Syaih Abubakar (atau BSA). Syecbubakar dilahirkan di Kota Tarim, Hadramaut pada tahun 919 H. Di lahir sebagai bayi kembar dengan saudara kembarnya adalah Agil bin Salim (leluhur keluarga Al-Athas). Syechbubakar lahir dari pasangan Habib Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Imam Qutb Abdurrahman Assegaf dan Syarifah Afifah Thalhah binti Agil bin Ahmad bin Syaikh Abu Bakar Assakran bin Imam Qutb Abdurrahman Assegaf. Secara silsilah, Syechbubakar merupakan zuriyat dari Rasulullah yang bersambung melalui Fathimah azzahrah dan Ali bin Abu Thalib ra. Berikut adalah silsilahnya: Syechbubakar bin Salim bin Abdillah bin Abdurahman bin Abdullah bin Abdurahman Assegaf bin Muhammad Al-Mudawailah bin ‘Ali bin ‘Alwi Al-Ghuyur bin Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Shahib Mirbad bin ‘Ali bin ‘Alwi bin Muhammad bin ‘Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin ‘Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin ‘Ali Uraidhi bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali Al-Ashghar Zainal Abidin bin Husein Sayyidus Syuhada bin ‘Ali Karaamallahu wajhah.[2] Syechbubakar merupakan keturnan dari cucu Fathimah AzZahra dan Ali bin Abu Thalib, yaitu Zainal Abidin Bin Husein (salah satu keluarga yang laki-laki yang hidup pada peristiwa pembantaian Karbala) yang saat ini tersebar, selain juga dari keturunan Hasan bin Ali bin Abu Thalib. Kalau diteliti lebih lanjut, silsilah tersebut dapat ditemukan untainnya sampai kepada manusia pertama di muka bumi yaitu Adam a.s. Ali bin Abu Thalib r.a yang merupakan sepupu satu (satu kakek) dengan nabi Muhammad saw yaitu Abdul Muthalib. Dalam Kanzul Ummal 6: 300, kitab Fadhail, hadis ke 35512 disebutkan:[3] “ Ibnu Abbas berkata, aku mendengar Nabi saw bersabda: “Aku adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththalib bin Hasyim bin Abdil Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Luay bin Ghalib bin Fahr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazzar bin Ma’da bin ‘Adnan bin Adda bin Udada bin Hamyasa’ bin Yasyhab bin Nabat bin Jamil bin Qaidar bin Ismail bin Ibrahim bin Tarikh bin Nahur bin Asyu’ bin Ar’us bin Faligh bin ‘Abar (Hud) bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh bin Lumka bin Mutawasysyalikh bin Akhnukh (Idris) bin Azda bin Qinan bin Anwasy bin Syayts bin Adam (as). Syaikh Abubakar bin Salim memiliki enam saudara (Sayyid Agil, Sayyid Syaikh, Sayyid Alwi, Sayyid Hussein, Sayyid Abdurrahman, dan Syarifah Aisyah) dan tujuh belas anak, yang terdiri dari empat perempuan dan tiga belas laki-laki. Di antara anak laki-lakinya, Huseinlah yang di pilih sebagai pengganti kedudukan orang tua. Habib Husein bin Abu Bakar bin Salim dikenal sebagai guru Habib Umar bin Abdurrahman Al Attas.

      Syaikh Abubakar bin Salim dikaruniai keturunan yang beberapa diantaranya menjadi nama marga keluarga Allawiyyin yaitu: Husein bin Syechbubakar bin Salim Al-Hamid Al-Muhdar atau disebut pula Al-Mahadir Al-Haddar Al-Hiyyid Al bin Jindan Al Abu Futhaim Al-Khumur Al bin Hafidz Yang pertama kali mendapat julukan (gelar) “Alhamid” adalah waliyyullah Hamid bin Syaich Abi Bakar bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullab bin Al Imam Abdurrahman Assegaf. So’al gelar “Al-Hamid” yang disandangnya berdasarkan bahasa Arab “Al-Hamid” yang berarti orang yang selalu suka berterima kasih (selalu mensyukuri) atas semua nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Maka. Waliyyullah Al Syaich Abi Bakar bin Salim memberi salah satu nama anaknya dengan “Al-Hamid” dengan do’a pengharapan agar anaknya tersebut menjadi orang yang selalu mensyukuri semua nikmat,yang diberikan oleh Allah SWT, baik dalam keadaan suka maupun duka kenyataannya “Al-Hamid” bin Syaich Abi Bakar menjadi seorang Waliyyullah yang bertawakkal kepada Allah dan senang menolong orang dan suka memberikan apa yang dimilikinya kepada orang yang membutuhkannya, hal tersebut dapat terlaksana karena Beliau termasuk golongan orang-orang yang dijanjikan oleh Allah SWT seperti dalam FirmanNya : Dalam Al Qur’anul Karim surat Ibrahim ayat 7 ” Bila Kalian mensyukuri NikmatKu, maka akan Kutambah lagi NikmatKu itu pada kalian.” Waliyyullah “Al-Hamid dilahirkan di kota Inat. Beliau dikaruniai 5 orang anak lelaki masing masing bernama : Muthahhar, yang menjadi keturunan Al-Hamid “Al-Aqil Muthahhar” dari anaknya yang bernama Aqil bin Muthahhar. Umar, yang menjadi keturunan A1Hamid “Al-Salim bin Umar”, dari anaknya yang bernama Salim bin Umar. Yang banyak menurunkan keturunan Al-Hamid terutama yang berada di Indonesia. Abdullah, Abubakar, Alwi, Masing-masing keturunannya kebanyakan berada di Hadramaut. Waliyyullah “Al-Hamid” bin Al-Syaich AbiBakar pulang ke Rahmatullah di kota Inat pada tahun 1030 Hijriyyah.

     Salah satu keturunan dari AL-Hamid adalah Sayyidil Mursyid Al-habib Husain bin Hasan Bin Sholeh Al-Hamid yang lahir pada tanggal 2 Agustus 1984,Beliau masih sangat muda tetapi ilmu Hakikat dan ke-Tauhid-an nya sudah tidak diragukan lagi. Beliau belajar kepada Sayyidil Mursyid Al-habib Irfan Bin Hasyim Bin Thahir yang sekaligus sebagai mertua beliau. Al-Habib Husain bin Hasan Al-Hamid sebagai pembimbing di majelis AL-GHIFARY yang berada di Jl. Pulo Indah,Petukangan Pesanggrahan, jakarta selatan.
     Beliau selalu menekankan kepada murid-muridnya agar selalu menebarkan kasih sayang kepada siapapun dan selalu berakhlak baik hingga mencapai pada tingkatan manusia yang sempurna. Akhlak dan adab beliau kepada siapapun sangat terpuji sehingga banyak orang yang menyeganinya.Bukan dari kalangan Ahwal saja tetapi para Habaib baik muda ataupun tua banyak yang datang ke rumah beliau untuk silaturrahmi,meminta nasihat atau bahkan menuntut ilmu.
     Metode pengajaran beliau kepada murid-muridnya adalah :
1. Selalu menjaga syariat yang telah di ajarkan Baginda RASULULLAH SAW melalui para Habaib,Alim       Ulama.
2. Selalu menjaga Hati ( Hubungan ) kepada MURSYID dimanapun murid itu berada.
3. Disiplin hati terhadap sesuatu yang telah ALLAH tentukan
 Majelis AL-GHIFARY diadakan setiap hari rabu malam kamis yang di adakan di rumah beliau dengan acara :
 1. Tawasul
 2. Pembacaan Manaqib Tuan Syech Abdul Qodir Al-Jaelani
 3. Pembacaan Maaulid Ad'dibai
4. Tausiah agama dari para Habaib/ Alim Ulama.
      Berbagai macam halangan dan rintangan Beliau hadapi dengan sabar demi menegakkan panji-panji ALLAH dan RASULULLAH. banyak sekali hinaan,hujatan bahkan fitnah yang harus beliau terima dari kalangan orang-orang yang benci atau iri kepada beliau,bukan balas dendam,atau tindakan konyol,tetapi senyuman yang beliau balas kepada orang-orang tadi. Begitu indah akhlak nya.
     Semoga ALLAH selalu mencurahkan Rahmat dan karunia untuk beliau dan semoga RASULULLAH selalu tersenyum bangga atas apa yang beliau kerjakan, dan bagi kami para murid-murid semoga selalu bisa menjadi/mewujudkan atas apa yang telah beliau ajarkan dan semoga kami menjadi murid yang selalu pandai menjaga akhlak,adab dan hati kami dimanapun kami berada. Semoga predikat INSAN KAMIL dapat kami peroleh dengan bimbingan Sayyidil Mursyid Al-Habib Husain bin Hasan bin Sholeh Al-Hamid. Dan semoga kita semua mati dalam keadaan Husnul Khotimah,mati dalam keadaan Mulia,mati dalam Keadaan membawa Iman,mati dalam keadaan cinta.amiinnn....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar